9 Taktik Penguasaan Hama Tikus

Taktik Penguasaan Hama Tikus
Fenomena kerusakan tanaman padi oleh serangan tikus senantiasa menjadi keadaan sulit bagi petani dan menjadi momok yang menyeramkan. Kehilangan hasil gabah pengaruh serangan hama tikus hampir terjadi tiap-tiap musim tanam dengan kerusakan menempuh 15-20% setiap tahunnya.

Tikus sawah (Rattus argentiventer) ialah tipe hama pengganggu pertanian utama dan susah dipegang sebab tikus itu sanggup ”belajar” dari perbuatan-perbuatan yang sudah dikerjakan sebelumnya. Tikus mempunyai indra penciuman yang berkembang dengan bagus. Dengan kesanggupan ini tikus bisa menandai kawasan pergerakan tikus lainnya, mengenali jejak tikus yang masih tergolong dalam kelompoknya, mendeteksi tikus betina yang sedang estrus (berahi) dan mendeteksi si kecilnya yang keluar dari sarang menurut air seni yang dikeluarkan oleh si kecilnya

Sebelum melangkah pada usaha pembatasan tikus sawah, perlu dikenal khususnya dulu biologis dan ekologi tikus, sehingga petani akan lebih gampang mengidentifikasi untuk berikutnya menjalankan pembatasan.

Tikus menyerang padi pada malam hari, pada siang hari tikus mengumpet di dalam lubang pada tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, jalan kereta apai dan tempat perkampungan dekat sawah.

Pada jangka waktu sawah bera beberapa tikus berpindah ke tempat perkampungan dekat sawah dan akan kembali ke sawah sesudah pertanaman padi memasuki fase generatif. Lihat Jasa Anti Rayap. Ketidakhadiran tikus di tempat persawahan bisa dideteksi dengan memantau eksistensi jejak kaki (foot print), jalanan jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan.

Umumnya hama tikus ini akan menyerang komponen akar dan batang yang akan menggerokoti komponen hal yang demikian sampai habis dan lama-kelaman akan mengakibatkan tanaman mati. Sebagai hewan pengerat, dalam memenuhi keperluan hidupnya tikus akan mengerat batang padi dengan perbandingan 5:1, adalah 5 batang padi dikerat cuma untuk memacu giginya agar tak tambah panjang dan 1 batang padi di makan untuk keperluan hidupnya.

Seandainya telah mengenal biologi dan ekologi tikus, diinginkan petani bisa mengontrol tikus dengan pas dan tepat sasaran dengan memandang situasi lingkungan di lapangan. Penguasaan tikus sawah seharusnya diawali secara diri, adalah diawali pada ketika sawah bera (sesudah panen), pada masa vegetatif dan masa generatif.

1. Meperbuat Penanaman serta Panen Serempak

Penanaman hendaknya dikerjakan secara serempak dalam satu hamparan, selisih waktu tanam dan panen hendaknya tak lebih dari 2 pekan. Setelah ini ditujukan untuk mengendalikan tersedianya pakan padi generatif sehingga tak terjadi perkembangbiakan hama tikus secara terus menerus.

2. Sanitasi Habitat Tikus

Sanitasi ialah aktivitas membersihkan semak-semak yang tumbuh pada habitat totaliter tikus, yakni zona tanggul, pengairan, jalan sawah, batas perkampungan, pematang sawah, parit, saluran pengairan.

3. Meminimalisasi Ukuran Pematang

Pematang sawah hendaknya dibangun rendah serta lebar tak lebih dari 30 cm supaya tak menjadi sarang tikus

4. Gropyokan

Gropyokan dapat dikerjakan dengan melibatkan semua petani yang ada dengan sistem penggalian sarang, pemukulan, penjeratan, pengoboran malam, perburuan dengan anjing dll.

5. Jasa Fumigasi/Pengemposan

Fumigasi ialah pembatasan hama tikus dengan pengasapan celah/sarang tikus. Adalah dikerjakan fumigasi lubang/sarang tikus ditutup rapat agar tikus mati. Fumigasi dikerjakan pada seluruh lubang/sarang hama tikus yang ada lebih-lebih pada stadium generatif padi.

6. Trap Barrier System (TBS)

sistem pembatasan hama dengan tanaman jebakan digunakan lebih-lebih di tempat endemik tikus dengan pola tanam serempak.

TBS berukuran 20 x 20 m bisa mengamankan tanaman padi seluas 15 hektar. TBS terdiri atas:

Tanaman jebakan untuk menarik kedatangan tikus, yakni petak padi seluas 20x20m yang ditanam 3 pekan lebih permulaan.
Pagar plastik untuk menuntun hama tikus supaya masuk jebakan, berupa plastik/terpal setinggi 70-80cm, ditegakkan ajir bambu tiap-tiap 1m dan ujung bawahnya terendam air.
Bubu jebakan untuk menangkap hama tikus yang dipasang pada tiap-tiap sisi TBS. Bubu jebakan terbuat dari ram kawat berukuran 20 x 20 x 40 cm.
7. Linear Trap Barrier System (LTBS)

LTBS berupa rentangan pagar plastik/terpal setinggi 60-70 cm, ditegakkan dengan ajir bambu tiap-tiap jarak 1 m, dilengkapi bubu jebakan tiap-tiap jarak 20 m dengan pintu masuk tikus bersela-seling arah. LTBS dipasang di tempat perbatasan habitat tikus atau pada ketika ada migrasi tikus. Pemasangan dipindahkan sesudah tak ada lagi tangkapan tikus atau sekurang-kurangnya di pasang selama 3 malam.